Cerita fiksi Malas Pangkal Miskin part1.jpg
SHARE THIS POST

Download Aplikasi Ngedongeng di

Cerita anak sebelum tidur boni dan wasiat kakek


“Cucuku, apakah kamu tidak mengerjakan PR? Setiap malam kakek tidak pernah melihat kamu belajar”

“Tidak, kek. Buat apa belajar. Nanti juga akan naik kelas. Teman-temanku juga tidak suka belajar.”

“Jangan berkata begitu. Kakek ini sudah tua. Kalau kamu malas, siapa yang akan membuat kakek bangga di usia kakek saat ini.”

“Ah kakek. Sudahlah. Aku ngantuk. Aku mau tidur.”

Boni pun tidur dengan pulas hingga keesokan paginya ia berangkat ke sekolah dengan wajah yang masih mengantuk.

Sesampainya di sekolah, Boni tercengang melihat seluruh tas teman-temannya berada di depan kelas.

“Hai kalian, mengapa tas kalian ada di depan kelas? Ada apa ini?”

“Wahh kamu tidak ingat ya minggu lalu, ibu guru memberitahu kalau minggu ini kita ujian naik kelas.”

“Apa? Ah kalian pasti bercanda denganku, kan?”


Cerita fiksi Malas Pangkal Miskin part2.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di

Cerita anak sebelum tidur malas pangkal miskin


Bel pun berbunyi. Seluruh siswa berbaris rapi di depan kelas lalu masuk satu per satu dengan tertib. Ketika seluruh siswa mulai duduk di kelas .

“Anak-anak, hari ini kita ujian matematika. Tulis jawabannya saja dengan tertib dan jangan mencontek ya.”

“Iya bu guru. Ketika ujian berlangsung, Boni tertidur hingga ujian berakhir.

“Boni, mana lembar ujianmu?”

“Hah? Mmm ini bu guru.”

Akhirnya boni pulang sekolah dengan perasaan sedih karena ia tidak mengisi satu pun jawaban hingga akhirnya ia bertemu dengan kakek.

“Bagaimana di sekolah hari ini, cucuku?”

“ Ujian hari ini begitu sulit kek. Aku ngantuk sekali,” Ujar Boni dengn ketus.

“Uhuk..uhuk.. cucuku, soal ujian itu akan mudah bila kamu belajar tadi malam.” Jawab kakek dengan tenang.

“Kakek selalu saja menyalahkanku! Aku tidak suka pelajaran itu. Kalau begini terus lebih baik aku pergi saja dari rumah ini,” kata Boni dengan penuh rasa kesal.


Cerita fiksi Malas Pangkal Miskin part3.jpg

Cerita anak sebelum tidur rajin pangkal kaya


Boni pun pergi membawa tasnya dan meninggalkan kakek di rumah tuanya. Melihat kepergian Boni, kakek pun berusaha untuk menghalangi Boni pergi dari rumah.

“Jangan pergi cucuku. Tetaplah disini dengan kakek. Kalau kamu diculik bagaimana?” kata kakek sambil menarik tasnya.

“Tidak. Biarkan aku pergi. Aku tidak tahan kakek selalu menyalahkan dan memarahiku. Biar saja aku hidup sebatang kara. Kakek tidak bisa lagi memarahiku,” jawab Boni dengan penuh marah.

Tetiba mata sang kakek berlinang air mata hingga ia melepaskan genggaman tangannya dari tas Boni. Boni pun akhirnya pergi meninggalkan kakek tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Di sepanjang perjalanan, Boni terus berjalan hingga di ujung desa ia menemukan gubuk kecil dan beristirahat sejenak disana. Boni tertidur pulas hingga ia tidak sadar tas nya diambil oleh orang yang tidak dikenal. Keesokan paginya, ia terbangun dan melihat tas nya sudah tidak ada lagi disampingnya.

“Maling...tolong ada maling....tasku di ambil maling” teriak Boni.

Ketika Boni berteriak, salah seorang penduduk pun menghampirinya dan berkata

“Hei anak kecil. Darimana asalmu? Apa yang terjadi?” Tanya seseorang itu dengan penasaran

“Tolong saya pak. Tas saya hilang. Tadi malam saya tidur disini sendirian. Lalu pagi ini saya tidak melihat tas saya lagi hu hu hu hu.” Ujar Boni sambil menangis.

“Hahahaha. Rasakanlah. Kamu tidak tahu ya disini adalah kawasan empuk bagi para maling untuk melancarkan aksinya. Kamu pulang saja sana. Penduduk desa ini juga tidak akan memerdulikanmu hahahaa,” Ujar pria itu sambil tertawa.

Cerita fiksi Malas Pangkal Miskin part4.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di

Cerita anak sebelum tidur memberi pesan mendidik tanpa hardik


Boni merasa sedih dan sendirian. Berhari-hari lamanya ia berkelana hingga akhirnya ia menemukan sebuah rumah usang dan menempati rumah tersebut. Rumah tersebut terlihat usang dan berdebu. Boni pun membersihkan rumah terseebut dan tinggal disana beberapa hari lamanya. Sampai suatu ketika, ia merasa lapar dan pergi ke kebun belakang rumah tersebut untuk mencari makanan. Ketika ia berjalan di kebun belakang tersebut, tiba tiba ia bertemu dengan seorang kakek tua yang sedang mencabut ubi kayu. Ia segera berlari kearah kakek tersebut dan berkata,

“Kakek, bolehkah aku meminta ubi kayumu? Aku sangat lapar.”pinta Boni dengan nada memelas.

“Boleh saja. Tapi kamu cabut sendiri ubi ini.” Ujar sang kakek. “Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mencabutnya. Aku bahkan tidak pernah membantu kakekku ketika ia pergi berladang.” Jawab Boni dengan rasa menyesal.

“Nak, kemalasanmulah yang membuat kamu kelaparan. Kalau kau begitu terus, kamu bisa mati disini. Aku bertahan hidup juga disini dengan caraku. Kamu punya kakek di rumah? Lantas mengapa kamu berada disini sendirian?” Tanya sang kakek. “Iya kek. Aku telah pergi dari rumah karena aku begitu kesal dengannya. Ia selalu memarahiku dan menyalahkanku.” Ujar Boni. “Kalau begitu kakekmu benar. Ia memarahimu karena ia begitu sayang kepadamu.

Lihatlah dirimu. Memetik ubi saja tak mampu. Kalau sudah dewasa mau jadi apa,” celetuk sang kakek sambil tersenyum. Mendengar ucapan sang kakek tua tersebut, ia teringat dengan kakeknya dirumah. Ia pun segera berlari dan pulang menuju rumah kakek.

Sayang sungguh disayang, ketika Boni pulang kakek sudah lama meninggal. Rumahnya dibiarkan kosong semenjak kakek meninggal. Ia endapati rmahnya berantakan dan begitu usang. Boni menangis sejadi-jadinya hingga suatu siang ketika ia berusaha merapikan rumahnya ia menemukan sepucuk surat di atas meja makan. Ia pun penasaran dan membuka si surat tersebut.

Betapa terkejutnya ia bahwa selama ini si kakek telah menghadiahkan ladang miliknya untuk Boni. Si kakek juga ingin agar Boni rajin belajar agar kelak dapat mengurus ladangnya yang begitu luas. Hati Boni begitu terenyuh dan ia pun mulai memperbaiki hidupnya sebagai anak yang rajin.

TAMAT

Cerita fiksi Malas Pangkal Miskin part5.jpg