Cerita fabel Meneladani Sikap Setia.jpg
SHARE THIS POST

Download Aplikasi Ngedongeng di



Cerita Fabel Anak Pohon Apel dan Malea


“Pohon apelku, sepertinya usiaku telah membuatku lemah. Aku sudah bertahun-tahun hidup di hutan ini sendirian. Tidak ada satupun hewan yang lewat disekitar sini. Apa terjadi sesuatu di hutan ini? Aku tidak mengerti mengapa hutan ini terasa sunyi dan dingin. Kalau begini terus aku tak akan mendapat teman.” Ujar Malea dengan nada cemas.

Malea duduk bersandar di bawah pohon apel dengan penuh kesedihan. Malea terus diliputi rasa sedih hingga tak lama kemudian ia melihat batang pohon apel bergoyang-goyang dengan sendirinya dan mengeluarkan suara,


“Malea si kijang kesepian. Hahaha... Malea sedang bersedih hahaha... Malea tidak punya teman hahaha.”

“Ka..ka..ka..mu... apa benar ini suaramu wahai pohon apelku?” kata Malea dengan nada ketakutan.

“Ya benar hahaha..aku adalah pohon apel yang setia. Aku selalu melihatmu disni.” Ujar pohon apel kepada Malea.

“Ta..ta..pi.. selama ini kamu tidak bisa berbicara. Bagaimana bisa kamu tiba-tiba berbicara seperti ini?” kata malea dengan penuh ketakutan.

Cerita fabel Meneladani Sikap Setia part2.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di



Cerita Fabel Anak Meneladani Sikap Setia


“Tapi kenapa kamu tidak mengatakannya? Aku fikir kamu sama dengan pohon tua lainnya. Setiap musim kemarau, kalian selalu gersang dan keliatan layu. Walaupun begitu, kamu tetap tidak pernah kesepian seperti aku,” kata Malea dengan sedih.

“Aku? Hahaha. Aku sudah tinggal di hutan ini seratus tahun lamanya. Jauh sebelum kamu datang dan tinggal disini. Selama itu pula aku merasa kesepian. Ketika musim dingin tiba, aku hanya bisa menggugurkan daunku sebagai tanda aku masih bisa bertahan. Belum lagi ketika harimau menghampiriku dan mencakar batangku. Aku begitu gusar. Tak ada satu pun yang peduli kepadaku tetapi aku tidak pernah putus asa. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar suatu hari aku diberi teman bersamaku disini.” Ujar si pohon sambil menitihkan air mata.

“Kasihan kamu, wahai pohon. Aku tidak tahu kalau selama ini kamu juga kesepian sepertiku. Nah mulai sekarang kita berteman ya. Aku tidak ingin kamu menangis dan kesepian lagi. Hutan ini adalah tempat tinggal kita berdua. Kalau terjadi sesuatu padamu, berteriaklah sekali maka aku akan segera berlari menolongmu.” Ujar Malea sambil memeluk dahan si pohon apel.

Setelah kejadian itu, Malea selalu menghabiskan waktu bermain bersama pohon apel. Sesekali Malea menggoyang-goyangkan dahan si pohon apel hingga berguguran lah daunnya. Ketika musim panen tiba, Malea selalu menaiki ranting si pohon apel untuk memakan buah apel dengan lahap.

Hingga suatu hari ketika malea sedang pergi berkeliling mencari bunga di ujung hutan, tiba-tiba terdengar suara hentakan kuda yang berlari begitu cepat. Malea yang berada di ujung hutan pun tidak merasakan bahaya mengintainya. Ia begitu asyik mencari bunga-bunga hutan yang baru saja tumbuh dan mulai memetik satu per satu untuk diberikan kepada si pohon apel.

Ketika Malea hendak pulang tiba-tiba terlihat sebuah anak panah melaju ke arahnya dan Malea pun menjatuhkan badannya hingga anak panah tersebut menancap di salah satu pohon besar di belakangnya. Seketika itu pula, Malea pura-pura pingsan hingga si kuda dan seorang anak laki-laki menghampirinya,

Cerita fabel Meneladani Sikap Setia part3.jpg

Cerita Fabel Anak Indahnya Sikap Setia


“Wahai pohon apelku, a..pa yang su..su..dah ter..jadi? Mengapa tubuhmu tidak seperti kemarin?” tanya Malea dengan nafas terbata-bata.

Pohon apel diam tak menjawab apa pun yang ditanyakan oleh Malea. Melihat keadaan si pohon apel, Malea langsung menggoyangkan dahan yang tersisa di atas pohon apel dan terus mengguncangkannya namun si pohon apel tak menjawab apa pun. Malea semakin sedih hingga ia tak merasakan nafas si pohon apel lagi. Ia menjerit sekuatnya sambil merebahkan tubuhnya di bawah pohon apel.

Hari berganti musim panen pun tiba. Malea menjalani kehidupannya sebagai seekor kijang yang ceria. Ia tak lagi memikirkan si pohon apel karena setiap musim panen tiba ia berkeliling hutan dan berbicara kepada bunga-bunga. Kesetiaan si pohon apel benar-benar membuat Malea bangga pernah bersahabat dengannya. Hingga suatu ketika di tengah perbincangan antara Malea dan bunga ia berkata, “wahai bunga cantik, maukah kau kuceritakan tentang sebuah kesetiaan seorang sahabat?” ujar Malea sambil tersenyum.

“Tentu saja. Memangnya siapa sahabatmu itu, Malea?” tanya si bunga dengan penasaran.

“Hanya sebuah pohon tua namun ia menemaniku selama-lamanya,” balas malea sambil memeluk si bunga.

Cerita fabel Meneladani Sikap Setia part4.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di



Cerita Fabel Anak Memberi Pesan Mendidik Tanpa Hardik


Pohon apel diam tak menjawab apa pun yang ditanyakan oleh Malea. Melihat keadaan si pohon apel, Malea langsung menggoyangkan dahan yang tersisa di atas pohon apel dan terus mengguncangkannya namun si pohon apel tak menjawab apa pun. Malea semakin sedih hingga ia tak merasakan nafas si pohon apel lagi. Ia menjerit sekuatnya sambil merebahkan tubuhnya di bawah pohon apel.

Hari berganti musim panen pun tiba. Malea menjalani kehidupannya sebagai seekor kijang yang ceria. Ia tak lagi memikirkan si pohon apel karena setiap musim panen tiba ia berkeliling hutan dan berbicara kepada bunga-bunga. Kesetiaan si pohon apel benar-benar membuat Malea bangga pernah bersahabat dengannya. Hingga suatu ketika di tengah perbincangan antara Malea dan bunga ia berkata, “wahai bunga cantik, maukah kau kuceritakan tentang sebuah kesetiaan seorang sahabat?” ujar Malea sambil tersenyum.

“Tentu saja. Memangnya siapa sahabatmu itu, Malea?” tanya si bunga dengan penasaran.

“Hanya sebuah pohon tua namun ia menemaniku selama-lamanya,” balas malea sambil memeluk si bunga.

Cerita fabel Meneladani Sikap Setia part5.jpg