blog post.jpg
SHARE THIS POST

Download Aplikasi Ngedongeng di

Cerita Fiksi Ikhlas Menyayangi Hewan


Di sebuah desa permai nan damai, hiduplah seorang anak perempuan bernama Tuci. Ia adalah seorang anak yatim piatu. Setiap hari ia berjualan roti yang diambil dari rumah Pak Tulak, si pembuat roti yang terkenal akan keserakahannya . Ia mengambil beberapa roti disana untuk dijual kembali di pasar. Meski pak Tulak sangat serakah dalam mengambil untung si penjual roti, Tuci tetap menerima dengan lapang berapa pun uang yang diberikan pak Tulak kepadanya. Ia sangat senang bisa berjualan roti di pasar karena ia dapat bertemu dengan banyak pembeli yang suka dengan rotinya. Suatu hari ketika ia hendak pergi ke pasar, ia melihat sandal yang sering ia pakai hilang sebelah. Tuci heran dan langsung mencari-cari dimana sandalnya. Ia berjalan mondar-mandir dari depan hingga ke dapur rumahnya. Namun hasilnya tidak ada. Ia mulai lelah dan duduk dibawah lantai rumahnya dan menangis.

“Huhuhu bagaimana ini, aku tidak bisa pergi ke pasar. Aku tidak akan makan hari ini huhuhu.” Kata Tuci dengan sedih.


Ketika ia menangis tersedu-sedu tanpa sengaja seekor kucing betina datang melewati pintu rumahnya. Si kucing masuk dan menyelinap kedalam rumahnya kemudian ia seperti mencari ikan di rumah Tuci. Tuci yang sedang menangis pun seketika berhenti dan melihat kucing itu mulai memanjat ke atas sisi rumahnya hingga ke tempat rak piringnya. Kucing itu terus mengeong lalu kemudian turun, menghampiri Tuci dengan suara memelas lalu mengusap-usap badannya ke tangan Tuci. Tuci merasa kasihan sekaligus terhibur karena tingkah lucu kucing betina tersebut. Ia pun kembali mengusap kepala si kucing sambil berkata,

“Puss..puss.. kamu lapar ya? Maafkan aku ya, aku tidak punya makanan yang enak hari ini. Kamu datang darimana sih, lucu sekali hehehehe”

blog post.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di

Cerita Fiksi Tuci dan Uti


Si kucing menatap Tuci dengan pandangan memelas lalu duduk diatas pangkuan Tuci. Tuci heran karena ia belum pernah melihat kucing itu di sekitar rumahnya tetapi si kucing sudah sangat akrab dengannya. “Kamu aneh sekali sih. Aku gapernah lihat kamu sering bermain disini tapi kamu mau bermain-main denganku,” kata Tuci kepada si kucing. Tuci yang merasa sangat senang dengan kucing betina tersebut akhirnya membawa si kucing ke pasar untuk menemaninya berjualan.

“Sekarang kita adalah teman baik. Kamu akan kubawa ke pasar agar kamu bisa melihat orang-orang yang ada di pasar,” kata Tuci.

“Ngeong..ngeong..” balas si kucing.

Tanpa memikirkan sandalnya yang hilang, Tuci memutuskan untuk tetap berjualan roti di pasar tanpa menggunakan sandal. Ia membawa beberapa bungkus roti dan ditemani oleh teman barunya. Ia memberi nama Uti, si kucing betina yang sangat ia sayangi.

Matahari mulai terasa menyengat. Tuci terus berjalan sambil bernyanyi mengiringi langkah kakinya. Ia tak peduli panasnya jalan membakar kulit telapak kakinya demi persediaan makanan yang ia inginkan. Ketika asyik berjalan, tiba-tiba Tuci berhenti karena ia mendengar Uti mengeong sangat kuat dengan berulang-ulang.

“Ada apa Uti? Mengapa kamu mengeong berulang-ulang?” kata Tuci dengan heran.

Uti langsung menggigit baju Tuci sambil melihat bungkusan roti yang dibawa Tuci.

“Oh kamu mau rotiku ya? Tapi bagaimana ya Uti, aku takut kalau aku berikan padamu, pak Tulak pasti meminta gantinya sementara aku belum mendapatkan uang hari ini.” Kata Tuci dengan sedih.

blog post.jpg

Cerita Fiksi Ayo Sayangi Hewan


Seakan tak peduli, Uti terus menggigit baju Tuci dan mengeong kearah bungkusan roti Tuci. Melihat mata Uti, Tuci merasa kasihan hingga ia pun memberikan sebungkus roti kepada Uti. Ia pun menyuapi Uti perlahan hingga roti itu habis dimakan Uti.

“Kamu sudah kenyang ya? Aku sangat senang sekali melihatmu kenyang. Sekarang ayo kita berjalan lagi. Kita hampir sampai di pasar,” kata Tuci sambil tersenyum.

Tak berapa lama sampailah mereka di pasar. Seperti biasa, Tuci melihat banyak sekali orang-orang yang berjualan di pasar menjajakan dagangannya kepada para pembeli. Ada yang menjual ikan, sayur-mayur, buah-buahan hingga mainan anak-anak. Semuanya lengkap. Tuci pun tak mau kalah. Ia mulai menjajakan rotinya kepada pembeli.

“Roti enak..roti enak..harga murah perut kenyang. Roti...roti...” Sahut Tuci. Uti pun ikut mengeong mengiringi langkah dan suara Tuci. Ketika mereka berkeliling bersahutan sambil menjajakan roti, tiba-tiba dari arah depan Tuci, terlihat seorang pemuda yang berlari dikejar-kejar orang dengan diiringi teriakan, “Maling...Maling...Tangkap dia. Dia mencuri tasku!” sahut beberapa orang dan seorang bapak. Ketika pemuda itu berlari menghindari orang-orang, tepat dihadapan Tuci ia berlari dan....

Brukkkk!

Si pemuda terjatuh dan tumpahlah seluruh dagangan Tuci.

Karena mendengar teriakan orang, Tuci langsung menahan si pemuda dan pemuda itu sangat marah kepada Tuci.

blog post.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di

Cerita Fiksi Memberi Pesan Mendidik Tanpa Hardik


“Hei anak kecil! Minggirlah! Kalau kau menghalangiku kau juga akan mati dipukuli warga.” Katanya dengan marah.

“Tidak! kamu itu pencuri. Cepat kembalikan tas yang kau curi!” kata Tuci dengan keras.

“Tidak mau! Ini bukan urusanmu!” balas si pemuda itu.

“Kembalikaaaan!” Balas Tuci.

Ketika Tuci berusaha menarik tas tersebut tiba-tiba Uti melompat dan menggigit tangan si Pemuda itu hingga berdarah.

“Aduhhhh sakit sekali!” teriak pemuda itu kesakitan. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba orang yang berteriak tadi pun sampai pada suara si pemuda itu dan melihat si pemuda itu tergeletak di tanah dengan tangan yang berdarah. Pak, ini maling yang sedang bapak cari,” kata Tuci kepada orang tersebut.

Orang-orang yang berteriak tadi pun langsung membawa pemuda itu ke kantor polisi dan salah seorang dari mereka mengambil tas tersebut sambil mengucapkan terima kasih kepada Tuci.

“Terima kasih ya nak. Kamu membantu saya untuk menangkap pencuri itu. Oh ya, sebagai balas jasa saya, saya punya pabrik sandal di belakang pasar ini. Kamu mau bekerja dengan saya? Kamu pedagang roti yang sering berjualan disini kan? saya sudah lama melihatmu tapi saya tidak tahu siapa namamu, Nak.” Kata orang tersebut.

“Ya benar pak. Saya Tuci. Wah, saya senang sekali bekerja di pabrik bapak.” Kata Tuci dengan senang.

Hmm,, baiklah kalau begitu saya akan membeli semua roti kamu dan berikan uang itu semua kepada yang membuatnya. Kamu tidak perlu lagi berjualan roti disini.” kata orag tersebut sambil tersenyum.

“Baik pak. Terima kasih banyak.” Balas Tuci sambil mencium tangan bapak tersebut.

Semenjak saat itu, Tuci dan Uti tidak lagi berjualan roti. Mereka menikmati bekerja di pabrik sandal.

Tuci teringat akan sandalnya yang hilang sebelah dan sudah tidak sedih lagi. Kini ia telah memiliki banyak sandal dan membuatnya dengan tangannya sendiri.

blog post.jpg