Cerita Fiksi Celakanya Sikap Serakah.jpg
SHARE THIS POST

Download Aplikasi Ngedongeng di



Dongeng Pengantar Tidur Sapu Ijuk dan Kakek Sangput


Di salah satu sebuah desa sumatera utara, ada sebuah cerita yang terkenal dari seorang kakek yang bernama kakek Sangput. Kakek sangput memiliki sebuah sapu ijuk yang selalu dibawanya kemanapun. Sehari-hari kakek sangput membersihkan rumah tiap warga untuk memnuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Meski hanya menyapu rumah warga, ia mampu mendapat rejeki yang tidak sedikit. Kadang jika ia bernasib baik, satu hari ia mampu membeli seekor ayam kampung dan dipeliharanya di belakang rumah. Kakek sangput hidup sebatang kara sehingga segala kebutuhan hidupnya ia penuhi dengan penuh semangat.

Suatu hari ketika si kakek hendak pergi bekerja ia melihat sapu ijuknya sudah terlihat lusuh dan buruk, si kakek pun berniat ingin membeli sapu ijuk yang baru.

Ketika ia mengangkat sapu ijuk tersebut tiba-tiba sapu ijuk tersebut berkata kepada kakek, “Hei jangan bawa aku ke pasar. Aku masih bagus. Kalau kau menjualku, kau tak akan dapat uang seumur hidupmu.”

Mendengar ucapan sapu ijuknya, si kakek terperangah dan tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ia terus memandangi sapu ijuknya. Dilihatnya bolak-balik namun ia tidak melihat mulut di batang sapu ijuknya. Ia masih tak percaya hingga menghempaskan sapunya ke bawah tanah dan sapu ijuk tersebut berkata,

“Hei kakek sangput. Jangan hempaskan aku. Memangnya kau ini sudah tak mau uang lagi?”

“Hah? Kau ini sapu ijukku kan? Aku tak pernah melihat kau berbicara sebelumnya. Lalu apa urusanmu dengan pekerjaanku? Aku mencari uang karena rejeki dari Tuhan bukan karena kamu,” balas kakek sangput dengan nada kesal.

Cerita Fiksi Celakanya Sikap Serakah part2.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di



Dongeng Pengantar Tidur Sapu Celakanya sifat searkah


“Tolong dengarkan aku. Aku sudah sering menemanimu pergi bekerja. Namun aku melihat kecuranganmu ketika bekerja. Aku tahu kalau kau sebenarnya menyimpan uang yang kamu dapatkan di jalan dan pura-pura menyapu agar orang tak tahu bahwa yang kamu sapu itu adalah uang. Kamu takut kalau yang punya uang akan melihat uangnya jatuh di badanku? Itu perbuatan yang tidak baik, kek. Aku sungguh kasihan kepadamu. Tolong gunakan aku untuk membersihkan rumah warga bukan untuk menyembunyikan uang yang bukan hakmu.” Ujar sapu ijuk dengan nada memelas.

“Ah...kau ini mengada-ada saja. Aku tak pernah melakukan itu. Aku sudah bertahun-tahun bekerja dan setiap warga tidak pernah menanyakan uang mereka. Lagipula aku sangat senang bekerja sebagai tukang sapu di desa ini hahaha,” balas si kakek lalu tertawa.

“Baiklah kalau begitu aku yang akan membongkar kejahatanmu. Kau fikir aku bermain-main dengan kata-kataku?” bentak si sapu lalu melihat tajam kearah kakek.

“Hohoho silakan saja kau lakukan. Kau ini hanya sebuah sapu tua yang sudah jelek. Sebentar lagi aku akan membawamu ke pasar dan kau akan diletakkan di tempat yang kotor. Pasar sungguh kotor.” Jawab si kakek dengan remeh.

Tak lama kemudian, si kakek langsung bergegas ke pasar dan membawa sapu ijuknya berjalan menyusuri desa. Ia dengan bangga berjalan namun didalam hati begitu khawatir kalau sapu ijuknya akan berbicara kembali. Ia tak habis fikir ketika sapu ijuk kesayangannya ternyata adalah sapu yang dapat berbicara.

Sesampai di pasar, orang-orang berjalan kesana kemari untuk berbelanja membeli keperluan sehari-hari. Namun kakek sangput tidak peduli. Ia terus berjalan hingga di satu perempatan ia menghentikan langkahnya dan meletakkan sapu ijuknya di sudut tepat di samping tempat pembuangan sampah. Ia tertawa lepas dan begitu yakin bahwa sapu ijuknya tidak berbicara kembali. Kakek sangput pun segera mencari sapu ijuk yang baru dan membawanya pulang.

Ia begitu senang ketika mendapatkan sapu yang baru. Dalam hati ia bergumam, “Aku akan menggunakan sapu ini untuk menyapu kamar tidur warga, siapa tahu ada uang yang bisa aku ambil dan ku campur uang mereka bersama sampah-sampah mereka. Ah, mumpung tidak ada yang tahu, kupakai saja sapu ini sekarang.”

Cerita Fiksi Celakanya Sikap Serakah part3.jpg

Dongeng Pengantar Tidur Pentingnya Bersikap Rendah Hati


Dengan penuh semangat, si kakek pun mulai berjalan menyusuri rumah warga dan menawarkan dirinya untuk menyapu rumah para warga. Ia berkeliling jauh hingga di pertigaan desa, ada seorang wanita berdiri di depan rumah meegah sambil melambaikan tangannya ke arah kakek Sangput. Tanpa berfikir panjang, kakek sangput langsung menghampiri wanita itu dan bertanya,

“Ibu memanggil saya?”

“Ya benar kek. Tolong bersihkan rumah saya ya kek. Kaki saya sakit sekali. Seharian saya tidak bisa menyapu rumah saya,” ujarnya.

“Wah dengan senang hati kakek membantu, bu.” Balas si kakek dengan wajah sumringah.

Ketika kakek sedang menyapu tiba-tiba di pojok halaman depan rumah wanita itu ia melihat sebuah sapu yang begitu ia kenali. Namun kakek tidak peduli. Kakek justru menyusuri rumah wanita itu hingga membongkar sela-sela laci rumah wanita itu. Ia pun menemukan sejumlah uang lalu kemudian menghempaskan uang tersebut dan menutupinya dengan sampah kertas yang ada di rumh tersebut. Dengan tenang ia pun mengutip uang tersebut dan melangkahkan kakinya ke depan rumah sampai akhirnya ia mendengar suara celotehan si sapu ijuk,

“Si kakek Sangput seorang pencuri. Si kakek Sangput seorang pencuri. Tangkap dia..tangkap dia..”

Betapa kagetnya kakek ketika ia mendengar asal suara itu dari sapu ijuknya yang kini berada di pojok rumah wanita tersebut. Ketika mendengar suara tersebut, wanita itu langsung mendekati arah suara itu dan bertanya dengan keras, “Siapa yang mencuri di rumahku?”

“Kakek Sangput seorang pencuri. Kakek Sangput seorang pencuri. Tangkap dia..tangkap dia,” kata sapu ijuk tersbut berulang-ulang.

Mendengar ucapan si sapu ijuk, kakek Sangput gemetar ketakutan hingga tertunduk dan mengakui kesalahannya kepada wanita tersebut.

“Maafkan saya bu. Saya terlalu tamak selama ini. Saya memanfaatkan sapu ini untuk menutupi kejahatan saya. Saya merasa malu. Sapu ijuk itu dulunya punya saya. Saya tidak percaya ia bisa berbicara. Saya mohon maafkan saya bu,” kata kakek sambil meneteskan air mata.

Cerita Fiksi Celakanya Sikap Serakah part4.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di



Dongeng Pengantar Tidur Memberi Pesan Mendidik Tanpa Hardik


“Oh jadi kakek yang mengambil uang warga disini ? Kek, mencuri itu tidak baik. Bagaimana pun yang kakek lakukan adalah tindakan kriminal. Uang saya boleh jadi kembali hari ini namun bagaimana dengan uang warga yang telah kakek curi? Apakah mereka akan menerima begitu saja? Saya tidak yakin. Malah kakek yang akan dihajar oleh mereka. Namun saya salut dengan kakek. Kakek berani mengakui kesalahan kakek meskipun saya belum sempat bertanya soal uang saya. Sebagai gantinya, saya akan membantu melunasi uang yang telah kakek curi, bagaimana?” kata wanita tersebut kepada kakek.

“Benarkah? Saya sangat berterima kasih bu.” Balas kakek dengan tersenyum.

Semenjak hari itu, kakek Sangput menyesali perbuatannya dan mengembalikan sejumlah uang yang pernah ia curi. Para warga hidup damai setelah itu. Tidak ada lagi pencurian, tidak ada lagi keresahan, tidak ada lagi kebingungan tentang sapu ijuk kakek Sangput.

Cerita Fiksi Celakanya Sikap Serakah part5.jpg