blog post.jpg
SHARE THIS POST

Download Aplikasi Ngedongeng di

Cerita Fiksi Tentang Kesetiakawanan


Di sebuah desa yang damai, tinggallah seorang anak laki-laki yang sangat suka memancing. Namanya Ujang. Ia senang menghabiskan waktu untuk memancing di sungai. Ia begitu senang ketika musim panas tiba. Baginya, musim panas itu adalah surga bagi ikan-ikan sungai untuk berkumpul. Ia begitu gigih mencari ikan tapi ada satu kebiasaannya, Ia tak pernah memerhatikan kailnya sehingga ketika ia selesai memancing, ia hanya meletakkan kailnya begitu saja tanpa mau membersihkannya. Ia menganggap bahwa kailnya tidak akan berkarat karena tali kailnya terbuat dari emas. Selain itu, Ujang selalu merasa beruntung karena ia selalu mendapat ikan yang besar kapan pun ia memancing. Oleh karena itulah ia tidak ingin meminjamkan kail tersebut kepada teman-temannya karena ia sangat sayang dengan kail itu. Di lain keadaan, ia juga harus menerima omelan ibunya agar ia selalu peduli dengan kailnya itu. Ibunya selalu berpesan kepadanya agar selalu merawat kail itu dengan baik karena ibunya khawatir kailnya berkarat dan tidak kuat lagi. Namun Ujang tidak pernah peduli. Ia selalu asyik memancing ke sungai dan memanggil teman-temannya untuk memancing bersamanya. Sampai di suatu siang, ketika Ujang hendak berjalan ke arah sungai, ia bertemu dengan Asep, teman sekelasnya.

blog post.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di

Cerita Fiksi Hindari Bersikap Sombong


“Hei Asep. Lihatlah! kail ini sangat besar. Kail ini dapat mengangkat hampir seluruh ikan yang besar yang ada di sungai ini. Kail ini sangat mahal, tidak dijual sembarangan” Kata Ujang dengan bangga.

“Wah bagus sekali kailmu ini. Bisa dong aku pinjam besok?” pinta Asep sambil memerhatikan kail si Ujang.

“Enak saja! Aku tidak mau ah. Bisa-bisa kalau kamu memakainya, kail ini menjadi rusak.” Kata Asep dengan sombong.

“Yah, kamu kok gitu sih, Jang. Kita ini kan berteman. Ayolah. Aku janji akan memakainya dengan hati-hati.” Kata Asep dengan penuh harap.

“Enggak bisa! Kamu cari kail yang lain saja. Aku tidak akan meminjamkan kail ini dengan sukarela kecuali...” jawab Ujang dengan hening sesaat lalu kemudian berkata lagi, “Kecuali kalau kita berlomba memancing ikan. Siapa yang ikannya paling besar, ia yang akan memiliki kail emasku ini selamanya.”Kata Ujang.

“Baiklah. Aku terima tantanganmu. Lalu bagaimana dengan yang mendapat ikan kecil, Jang?” Tanya Asep.

“Ya jelas ikannya diberikan kepada yang menang dong.” Balas Ujang dengan puas.

“Ah kamu curang. Tapi bagaimana ya, aku benar-benar butuh kailmu itu karena aku ingin mendapatkan ikan yang besar hari ini untuk ayahku. Ayahku sedang sakit, Jang. Aku harus membawakan ikan yang besar karena ia harus makan ikan yang cukup.” Kata Ujang dengan wajah murung.

blog post.jpg

Cerita Fiksi Ujang dan Kail Emas


“Ha ha ha. Kita lihat saja nanti. Kamu juga harus usaha dong. Harusnya kamu ganti kail. Masa pake kail yang kecil. Mana mungkin kamu bisa menangkap ikan yang besar dengan kail sekecil itu.” Kata Ujang dengan nada meremehkan.

“Aku tidak punya kail yang besar, Ujang. Karena itulah aku ingin meminjam kailmu,” balas Asep dengan penuh harap.

“Ya sudah, tidak usah banyak bicara! Ayo kita mulai pertandingan ini.” Kata Ujang dengan semangat.

Kedua anak tersebut mulai bersiap untuk berlomba. Masing-masing dari mereka mulai menyiapkan kail dan meletakkan umpan diujungnya lalu melemparkannya dengan jarak yang berbeda. Asep di sebelah kanan dan Ujang sebaliknya. Mereka begitu fokus dengan kail masing masing hingga tak lama kemudian kail Asep bergerak dan muncullah gelembung dari tempat ia melemparkan umpannya.

“Yes aku dapattt!” teriak Asep dengan keras. Ia pun segera menarik kailny dan betapa kagetnya ia karena yang ia dapatkan adalah ikan mas yang besar.

“Yuhuuu aku dapat ikan mas!” teriak Asep lalu mengangkat ikannya keatas dan menunjukkannya kepada Ujang.

“Hei ujang lihat ini! Aku dapat ikan mas yang besar. Berarti aku yang menang dong. Sekarang kamu tepati janji kamu, kalau yang menang dia akan memiliki kailmu selamanya.” Kata Asep dengan semangat.

“Eh.. eh, siapa bilang kamu menang. Aku belum memancing. Tadi aku masih memperbaiki umpanku yang telilit rumput. Kali ini aku pasti akan mendapatkan ikan yang lebih besar dari kamu.” Kata Ujang dengan sombong.

blog post.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di

Cerita Fiksi Memberi Pesan Mendidik Tanpa Hardik


“Wah kamu benar-benar curang! kamu tidak menepati janji kamu. Aku kecewa padamu. Kalau begitu biar adil, kamu juga tidak bisa memancing lagi, aku buang saja kailmu ini,” kata Asep sambil menarik tali pancing Ujang dengan sekuat tenaga. Terjadilah perkelahian diantara mereka berdua hingga begitu kuatnya tenaga Asep, kail si Ujang pun terlepas dari tali pancingnya. Dengan cepat, Asep menarik kail si Ujang dan melemparkannya ke arah sungai. Melihat hal itu, Ujang tampak geram lalu berusaha menangkap kail emasnya namun tiba-tiba ia terpeleset hingga jatuh kedalam sungai.

“Aaaaaa tolong aku Asep. Aku tidak bisa berenang....” teriak Ujang. Melihat keadaan Ujang, Asep tak tega membiarkannya karena ia khawatir Ujang akan tenggelam. Dengan cepat ia langsung lompat ke sungai dan menyelamatkan Ujang. Ia pun mulai membawa tubuh Ujang dari sungai. Perlahan ia naik ke atas daratan dengan tubuh Ujang yang sudah setengah pingsan. Asep berusaha memberikan bantuan pernafasan kepada si Ujang.

“Kamu ga apa-apa kan? Coba bernafas dengan perlahan, aku akan membantumu menepuk punggungmu,” kata Asep. Dengan perlahan Ujang mulai menarik nafasnya kemudian Asep menepuk punggungnya. Hingga akhirnya keluarlah air dari mulut Ujang dan Ujang pun berhasil diselamatkan.

“Terima kasih ya, Sep. Kamu sangat baik padaku. Aku minta maaf ya karena selama ini aku bersikap sombong kepadamu. Aku juga serakah dan mau menang sendiri. Aku janji aku tidak akan seperti itu lagi. Kamu mau kan berteman denganku lagi?” Tanya Ujang dengan rasa bersalah.

“Iya aku udah memaafkan kok. Kamu tetap temanku.” Kata Asep sambil tersenyum.

“Oh iya ngomong-ngomong, kail emasmu mana?” tanya Asep kepada Ujang.

“Oh kail emas? Aku udah lupa tuh. Hahahaha.” Balas Ujang dengan tawa. Sejak saat itu, Asep dan Ujang menjadi sahabat karib dan Ujang tidak pernah lagi mengingat kail emasnya yang pernah membuatnya celaka.

blog post.jpg