blog post.jpg
SHARE THIS POST

Download Aplikasi Ngedongeng di



Dongeng Anak Bahaya Berprasangka Buruk


Di suatu pagi yang cerah, ketika seluruh hewan sedang mempersiapkan lomba cerdas cermat tampak beberapa hewan sibuk memasang lampion dan peralatan tulis, Lila sedang duduk didekat pohon yang rimbun. Lila adalah seekor burung merak yang cantik dan memiliki bulu yang berwarna-warni. Suatu hari ketika ia sedang berjalan di sekeliling hutan tiba-tiba seekor harimau menghampirinya dan berkata,

“Alangkah cantiknya bulumu itu, Lila. Maukah kau memberikannya satu untukku?”

“Tidak mau. Buluku ini adalah pemberian Tuhan. Aku tak akan memberikannya kepada siapa pun,” ujar Lila kepada si harimau.

“Huh, kau ini sombong sekali. Aku juga tidak terlalu tertarik dengan bulumu. Kau lihat kan betapa cantiknya kulitku. Kulitku sering dimanfaatkan manusia untu membuat berbagai benda, tidak seperti bulumu,” jawab harimau dengan sombong.

blog post.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di



Dongeng Anak Lila Si Burung Merak


Begitulah percakapan yang sering terjadi antar hewan yang ada di hutan. Lila seakan tak peduli dengan apa yang dikatakan teman-temannya, ia justru sibuk mengatur siasat agar ia dapat memenangkan lomba cerdas cermat yang akan dilaksanakan nanti malam. Seluruh hewan ikut berpartisipasi memeriahkan lomba cerdas cermat. Mulai dari menyiapkan lampu peralatan tulis hingga papan tulis. Semua tertata rapi dan dimeriahkan oleh si Tupi yang juga ikut mengisi acara. Ketika persiapan acara hampir selesai, tiba-tiba Tupi menghampiri Lila dan berkata,


“Kasihan sekali kamu, Lila. Duduk sendiri disini. Ku lihat tidak ada satupun teman yang menemanimu. Apalagi lawanmu nanti adalah Mumu. Kau tidak mungkin mengalahkan Mumu karena dia sudah terkenal pintar di hutan ini,” ujar Tupi kepada Lila.

“Oh ya? Aku tidak takut tuh. Aku disini sedang belajar. Aku senang belajar. Apapun nanti hasilnya aku tetap senang mengikuti lomba ini karena ini adalah hal yang kuinginkan. Aku tidak takut kalah dan bisa saja lawanku yang kalah,” balas Lila. “Apa? Hahaha. Pe-de sekali sih kamu. Kita lihat saja nanti siapa yang akan memenangkan lomba ini.” Ujar Tupi lalu pergi ninggalkan Lila.


“Huft, sombong sekali sih mereka. Padahal aku hanya belajar. Aku tidak takut pada Mumu. Kali ini aku harus menang,” gumam Lila dalam hati.

blog post.jpg

Dongeng Anak Jauhi Prasangka Buruk


Malam pun tiba. Semua hewan mulai berkumpul di hutan untuk melihat lomba cerdas cermat yang akan diadakan sebentar lagi. Para hewan dari penjuru hutan juga ikut meramaikan suasana hutan. Para penonton sudah bersiap melihat perlombaan yang diadakan setiap musim semi tiba. Tupi dan Mumu tampak berjalan bersama untuk mencari tempat duduk. Ketika semua sudah berkumpul, tiba-tiba Tupi menyeletuk,

“Coba lihat teman-teman. Dimana si Lila yang sombong? Aku tidak melihat ia ditemani siapa pun di lomba ini hahaha.” “Hei jangan begitu. Bagaimana pun Lila juga peserta yang ada disini. Kita harus menjaga sopan-santun terhadap juri dan penonton lainnya,” ujar Mumu kepada Tupi.

“Ya..ya..ya.. kita lihat saja nanti. Aku yakin kamu yang akan memenangkan lomba ini,” kata Tupi dengan ketus.

“Diharapkan seluruh peserta lomba cerdas cermat duduk di bangku yang telah disediakan. Untuk kali ini, perlombaan final antara Mumu dan Lila kita beri tepuk tangan yang meriah,” kata MC sambil bertepuk tangan.


Seluruh penonton bersorak gembira dan memberi semangat kepada Mumu dan Lila. Pertandingan berlangsung seru hingga pada pertanyaan terakhir seluruh penonton mendadak hening.

“Apa pelajaran terakhir yang kamu pelajari di dalam hidupmu, nak? Tanya salah seorang juri kepada Mumu dan Lila. Seketika Lila langsung mengangkat tangannya dan berkata “Aku ingin menjadi anak yang membanggakan kedua orang tuaku, pak juri. Aku tidak pernah melihat kedua orang tuaku lagi setelah hutan ini mengalami kebakaran hebat,” jawab Lila.

blog post.jpg

Download Aplikasi Ngedongeng di



Dongeng Anak Memberi Pesan Mendidik Tanpa Hardik


Semua penonton tercengang, termasuk Mumu dan Tupi. Mereka tak menyangka bahwa Lila yang selama ini mereka anggap adalah seekor burung mereka yang angkuh namun ternyata ia adalah burung merak yang tidak memiliki orang tua. Tiba-tiba Tupi merasa kasihan dengan Lila dan sontak meneriaki nama Lila di hadapan penonton.

“Ayo Lila..kamu pasti bisa. Kamu anak yang pintar.. ayo semangat!”

Melihat semangat Tupi, Lila terharu dan bersemangat mengikuti perlombaan hingga akhir.

“Waktunya sudah habis. Pemenangnya adalah Lila,”ujar salah seorang juri sambil memukul gendering.
“Horeeee Lila menang.” Sorak penonton bergembira.
“Terima kasih Tupi. Aku tidak menyangka kamu akan mendukungku dan member semangat di detik terakhir perlombaan,” kata Lila sambil meneteskan air mata.

“Sudah seharusnya aku membantumu, Lila. Maafkan perbuatanku tadi siang ya. Aku ingin menjadi temanmu sekarang,” kata Tupi lalu memeluk Lila.

Sejak hari itu, Lila selalu belajar dan bermain bersama Mumu dan Tupi. Hutan menjadi tenteram dan hewan-hewan di hutan pun menjadi pintar karena selalu belajar dari Mumu dan Lila.

blog post.jpg